Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

Perjuangan seorang ibu

Menjadi seorang wanita bukanlah sebuah pilihan, tapi takdir manusia. Sedangkan menjadi deorang ibu adalah sebuah pilihan yang sangat mulia. Penderitaan seorang ibu adalah anugerah bagi orang yang bersyukur. Sebagai seorang ibu sepatutnya bagi seorang wanita mempersiapkan diri sejak masih gadis.
Sejak gadis, seorang wanita dapat memilih calon bapak bagi anak-anaknya sesuai dengan yang diinginkan. Seyogyanya, untuk calon bapak, seorang wanita paling tidak harus memilih laki-laki yang bertaqwa pada Tuhan, setia, bertanggunggung jawab dan pekerja keras.
Apanila telah memasuki dunia rumahtangga, maka seorang anita harus mempersiapkan diri menjadi seorang ibu dengan mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya bagaimana mengatur keuangan rumah tangga, melayani suami, menjaga kebugaran tubuh, merawat anak-anak dan lain sebagainya.
Apabila telah memiliki anak, maka seorang ibu harus terus mengembangkan pengetahuan bagaimana menjaga komunikasi dengan suami dan anak-anak, mengetahui sedikit tentang psikologi anak dan mendalami karakteristik anak-anaknya sehingga dia mampu berkomunikasi secara efektif dengan anak-anaknya.
Apabila sudah menjelang menopause, seorang ibu harus mempersiapkan diri mengalami perubahan hormonal.

Kamis, 24 Desember 2009

Guru, Janganlah Pakai Tinta Merah

SYDNEY — Para guru di Australia sekarang diminta tidak menggunakan pena merah untuk memberi nilai pada lembar kerja siswanya karena warna itu dianggap terlalu agresif. Demikian salah satu strategi pendidikan yang dirancang oleh pemerintah Negara Bagian Queensland, Australia.

Strategi yang tertuang dalam buku panduan “Tonggak-tonggak Kesehatan Mental yang Baik” itu kini disebar di 30 sekolah di wilayah tersebut. Salah satu sarannya berbunyi “Jangan memberi nilai dengan pena merah, gunakan warna lain”.

Saran lainnya adalah meminta maaf kepada siswa bila dirasa perlu dan meminta siswa memeriksa kemampuan pribadi” mereka dengan memfokuskan pada kekuatan ketimbang kelemahan mereka.

Panduan pendidikan ini memicu perdebatan di parlemen. Wakil pemimpin oposisi, Mark McArdle, menyebutnya sebagai “kebijakan yang edan”. Tapi Menteri Kesehatan Stephen Robertson, yang departemennya merancang panduan itu, khawatir soal seriusnya kasus bunuh diri pemuda. Sekitar 14 persen anak-anak dan orang dewasa Australia dilaporkan menderita semacam penyakit mental.

“Jika ahli kesehatan mental menyatakan bahwa panduan itu merupakan satu dari sejumlah strategi yang perlu dipertimbangkan guru, saya akan mendukung mereka setiap saat,” kata Robertson.



Sumber: Koran Tempo/Reuters

Rabu, 16 Desember 2009

Diklat TOT KTI dari Klub Guru Indonesia

Hari Sabtu kemarin diadakan diklat TOT pembuatan Karya Tulis Ilmiah oleh KGI yang dihadiri oleh 42 peserta. Selama 2 hari peserta mendapat ilmu tentang Karya Tulis Ilmiah dan bentuk-bentuknya.

Pemateri, ibu Pangesti Widarti benar-benar memukau peserta. Disana kita juga mendapatkan pelatihan menggunakan Minjet yang sangat membantu dalam membuat rancangan tulisan, bahkan dari rancangan itu dapat langsung diubah dalam bentuk outline atau tulisan biasa.

Minjet atau peta konsep tersebut dapat membantu kita menuangkan ide dengan cepat dan membuat kerangka karangan yang akan kita buat. Saya sebagai salah satu peserta benar-benar merasakan manfaat diklat kali ini. Terima kasih kepada ibu Pangesti yang telah membimbing kami.

Pelatihan ini sebenarnya perlu dilanjutkan, karena banyak hal mengenai Karya Tulis Ilmiah yang perlu dibahas, karena KTI banyak bentuk dan variasinya. Teman-teman peserta memang menginginkan ada kelanjutan dari pelatihan KTI ini.

Kamis, 10 Desember 2009

Seminar KGI di Surabaya

Tanggal 6 desember 2009, saya mendapat pengalaman baru dengan mengikuti seminar "Social Media untuk pembelajaran" di Surabaya.

Ada pak Sofyan dan Kang Onno Purwo W. yang dapat membuat semangat saya untuk semakin mengenal dunia maya lebih jauh untuk mwningkatkan kualitas pembelajaran pada siswa-siswa saya.

Memang ada obsesi saya yang belum tercapai seperti yang telah dicapai oleh pak Sofyan, saya juga ingin mengenal negara di luar Indonesia, tentunya tanpa biaya.

Semoga melalui dunia maya ini saya bisa mewujudkan impian saya. Tentunya melalui dunia pendidikan yang saya geluti sekarang.

Terima kasih untuk KGI yang telah mengadakan seminar gratis, tapi bermutu. Semoga lain kali ada lagi seminar seperti ini yang dapat bermanfaat bagi kita sebagai guru untuk menambah wawsan dan pengetahuan demi dunia pendidikan yang lebih baik lagi.

Senin, 23 November 2009

UNAS, masih perlukah?

Pendidikan di Indonesia selalu berkembang, tapi bagi guru di daerah, perkembangan kurikulum seperti membingungkan. Perubahan dari satu bentuk kurikulum ke bentuk kurikulum yang lain terasa begitu cepat. Kurikulum KBK belum terasa manfaat dan mudaratnya sudah digantikan dengan kurikulum KTSP.

Mungkin ini salah satu akibat perkembangan zaman yang diiringi perkembangan teknologi yang semakin cepat, sehingga dunia pendidikan di Indonesia juga harus cepat mengadaptasi perubahan itu dengan perubahan kurikulum.

Memang ada baiknya kita berganti kurikulum dengan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, tetapi bila sistem pendidikan juga tidak berubah, maka apa yang kita harapkan yaitu peningkatan mutu pendidikan malah tidak akan pernah tercapai.

Pada kenyataannya kurikulum KTSP ternyata tidak dilaksanakan sesuai yang diharapkan. Bila menilik pada kepanjangan dari istilah KTSP, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, maka sebenarnya sekolah mempunyai otoritas penuh untuk menyelenggarakan pendidikan. Tapi mengapa sekarang masih diadakan UNAS? Apakah itu menyebabkan otoritas sekolah tidak berlaku lagi?

Pendidikan sebenarnya bertujuan lebih adri sekedar meluluskan siswa dengan nilai kognitif yang tinggi, tapi lebih komplek dari itu. Bila hanya UNAS yang menjadi penentu, maka kita menafikan prestasi siswa atau kecerdasa siswa di bidang yang lain.

Setiap siswa tentu mempunyai kecerdasan dalam bidang yang berbeda. Tapi alat ukur yang digunakan oelh negara hanya beberapa mata pelajaran yang mengacu pada kognitif, dan menafikan afektif dan motorik siswa.

Kalau memang negara akan mengukur tingkat kecerdasan siswa, lebih baik sistem seperti DANEM yang dulu pernah diberlakukan lebih mengena, karena otoritas sekolah lebih dihargai dan kecerdasan siswa yang berbeda juga dihargai. Sekolah juga tidak melulu hanya mempersiapkan siswanya untuk mempelajari mata pelajaran yang di-UNAS-kan saja, tetapi tetap akan mengadakan pendidikan yang menyeluruh meliputi mental dan spiritual siswa juga.

Rabu, 04 November 2009

Trik Berhitung Cepat Jurus I Penjumlahan tanpa menyimpan

Mulai hari ini dan selanjutnya saya akan mengemukakan trik berhitung cepat yang ditulis oleh Edward H. Julius, meskipun sebenarnya pada saat kita berhitung, secara tidak sengaja kita telah menggunakan trik tersebut. Berikut ini trik berhitung
Jurus I : Penjumlahan tanpa menyimpan

Soal : 79+48+67+58

Jawab :
Langkah I Jumlahkan angka pada kolom satuan 79
48
67
­­­_58_
32
Langkah II Jumlahkan angka pada kolom puluhan 22__
252
Jawab : 252


Contoh 2 : 73+18+54+36

Langkah I Jumlahkan angka pada kolom satuan

73
18
54
­­­_36_
21
Langkah II Jumlahkan angka pada kolom puluhan 16__
181
Jawab : 181

Latihan :

59+46+83+19 =
27+85+47+32 =
52+75+64+23 =

Minggu, 01 November 2009

Pengalaman mengajar dengan Team Game Competition

Hari Kamis yang lalu, aku mengajar Fisika kelas VIII dengan tema energi dan usaha. Agar anak-anak tidak bosan, aku merencanakan menggunakan metode TGT (team game competition).

Sehari sebelumnya, anak-anak telah aku kelompokkan dalam kelompok heterogen. Tiap kelompok beranggota 7 orang, sehingga setelah pelajaran aku mulai dengan menjelaskan materi, anak-anak langsung aku minta untuk belajar secara berkelompok. Bagi yang pintar dapat membantu yang lemah atau malu bertanya agar mereka mengerti dengan materi yang telah kusampaikan. Pada tahap ini, aku merasakan keseriusan dari anak-anak untuk belajar secara mandiri.

Sebelum pertandingan dimulai, saya menjelaskan prosedur pertandingan dengan mencontohkan salah satu kelompok tournament. Menginjak pada tahap 'game competition', saya membagi kelompok menjadi 7 kelompok tournament. Setiap meja tournament terdapat 5 orang yang homogen, wakil dari tiap kelompok untuk mendapatkan poin dengan menjawab pertanyaan yang telah saya sediakan di kelompok tersebut.

Sebelum pertandingan dimulai, anak-anak pada setiap meja saya minta untuk hompimpah untuk menentukan giliran dalam menjawab pertanyaan. Pada tahap inilah mulai terjadi hal-hal yang tidak saya inginkan. Anak-anak mulai ada yang meninggalkan meja tournamennya untuk melihat meja yang lain tempat temannya sedang bertanding sementara saya sedang membimbing salah satu kelompok. Sehingga suasana di kelas terkesan agak kacau.

Kejadian itu tidak pernah terbayang dalam pikiran saya. Tapi pertandingan tetap berjalan dan anak-anak masih sempat mengumpulkan point walaupun ada beberapa anak yang salah berebut kartu pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan, sehingga harus saya cek, tapi poin dapat juga mereka kumpulkan. Dari poin tersebut saya menjanjikan akan menjadi nilai hari ini. Saya tentukan berdasarkan rangkin perolehan poin kelompok.

Pada hari Sabtu setelah kejadian itu, saya agak merubah pola pertandingan. Setiap kelompok pertandingan saya panggil kemudian mengadakan pertandingan dengan pengawasan saya langsung, sehingga tidak ada yang curang (menurut bayangan saya). Tapi ternyata saya keliru. Setiap ada pertanyaan yang dibacakan, teman-teman yang lain bergerombol di dekat masing-masing wakil mereka dan membisikkan jawaban yang benar. Terpaksa saya sibuk lagi mengusir anak-anak yang bergerombol. Waduh.... dasar anak-anak.

Tapi saya masih dapat merasa senang karena saat pertandingan berlangsung, semangat anak-anak untuk bersaing dan mendapat poin tinggi masih besar, disamping itu, sebelum pertandingan dimulai, anak-anak terlihat serius belajar agar dapat ikut serta menyumbangkan poin bagi kelompok mereka.

Semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru yang lain.

Minggu, 08 Februari 2009

Percobaan kimia menguji asam basa

Bahan dan alat :
a. 10 mL cuka
b. 10 mL larutan sabun
c. 10 mL larutan kapur
d. 10 mL sprite
e. 10 mL air (aqua)
f. Ekstrak bunga sepatu (10 bunga sepatu dihaluskan + air, lalu diperas/disaring)*
g. 1 buah pipet
Prosedur :
1. Tuang semua larutan pada 5 gelas yang bening, beri nama masing-masing larutan, kemudian amati warna masing-masing dan catatlah.
2. Ambil ekstrak bunga sepatu dengan pipet kemudian teteskan pada kelima gelas tadi, masing-masing empat kali pipet. Amati warna yang dihasilkan, kemudian tentukan sifat dari bahan2 tadi!
Hasil :
Bila larutan berwarna ungu atau bening, berarti bersifat netral
Bila larutan berwarna hijau - biru, berarti bersifat basa
Bila larutan berwarna kuning - merah, berarti bersifat asam
*Ekstrak bunga sepatu berwarna ungu

Sabtu, 07 Februari 2009

Laptop dan Internet masuk sekolah?

Saat ini memang semarak program One Laptop Per Child. Tapi bagi Indonesia apakah program itu cocok? Padahal masih ada sekolah yang bangunannya masih ambruk, genteng bocor dan lain sebagainya. Trus, apakah laptop juga akan menambah kecerdasan anak-anak kita? Belum tentu.
Laptop dan internet sejatinya adalah alat bantu bagi siswa untuk mendapatkan informasi untuk mendukung kreatifitasnya. Tapi hal itu bisa dilakukan bila mereka sudah mengerti dasar-dasar teknologi dan mampu mengendalikan dirinya dan belajar dari informasi yang diperolehnya.
Menurut saya, ketersediaan buku-buku murah lebih penting daripada laptop, apalagi bagi siswa-siswi di desa. Selama saya menjadi guru di desa, Siswa-siswi saya memang bebas biaya, tapi buku-buku juga hanya mendapat pinjaman dari sekolah, itupun buku-buku yang sudah tidak sesuai dengan kurikulum sekarang. Akibatnya, guru-guru akan mendiktekan bahan ajaran-nya terlebih dahulu sebelum dijelaskan. Karena keterbatasan buku tersebut pula dan kurangnya dukungan dana dari orang tua siswa yang memang kebanyakan tidak mampu (masih untung bisa sekolah), bahan ajaran sesuai kurikulum kadang tidak tersampaikan seluruhnya.
Jadi lebih baik bila Dinas Pendidikan menyediakan lebih banyak buku-buku secara gratis, karena BSE yang sekarang ada ternyata tidak dapat diberikan kepada siswa karena sekolah harus mencetak sendiri sedangkian dananya tidak ada atau tidak cukup.

Sabtu, 31 Januari 2009

Anak cerdas harapan semua orang tu

Semua orang tua tentu ingin anaknya cerdas. Terdapat cara-cara dan tips paraktis agar anak menjadi cerdas, aktif dan kreatif. Silahkan menuju alamat ini: http://navig8.to/anakcerdas