Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

Perjuangan seorang ibu

Menjadi seorang wanita bukanlah sebuah pilihan, tapi takdir manusia. Sedangkan menjadi deorang ibu adalah sebuah pilihan yang sangat mulia. Penderitaan seorang ibu adalah anugerah bagi orang yang bersyukur. Sebagai seorang ibu sepatutnya bagi seorang wanita mempersiapkan diri sejak masih gadis.
Sejak gadis, seorang wanita dapat memilih calon bapak bagi anak-anaknya sesuai dengan yang diinginkan. Seyogyanya, untuk calon bapak, seorang wanita paling tidak harus memilih laki-laki yang bertaqwa pada Tuhan, setia, bertanggunggung jawab dan pekerja keras.
Apanila telah memasuki dunia rumahtangga, maka seorang anita harus mempersiapkan diri menjadi seorang ibu dengan mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya bagaimana mengatur keuangan rumah tangga, melayani suami, menjaga kebugaran tubuh, merawat anak-anak dan lain sebagainya.
Apabila telah memiliki anak, maka seorang ibu harus terus mengembangkan pengetahuan bagaimana menjaga komunikasi dengan suami dan anak-anak, mengetahui sedikit tentang psikologi anak dan mendalami karakteristik anak-anaknya sehingga dia mampu berkomunikasi secara efektif dengan anak-anaknya.
Apabila sudah menjelang menopause, seorang ibu harus mempersiapkan diri mengalami perubahan hormonal.

Jumat, 09 Oktober 2009

Bencana!!! (azab atau peringatan???)

Beberapa bulan terakhir ini Indonesia seolah tidak pernah lepas dari yang namanya bencana. Setelah sunami, terjadi banyak kecelakaan di darat, laut dan udara, banjir dan juga gempa. Apa yang terjadi dengan kita?? penghuni bumi ini? Mengapa Tuhan selalu memberi kita musibah?

Seharusnya kita harus berpikir, apa yang telah kita perbuat sehingga membuat Sang Pencipta kita memberikan musibah yang bertubi-tubi dan seolah tiada henti? Mari kita menelaah bersama, apa yang telah kita lakukan pada alam dan bumi kita sendiri? Hutan-hutan yang dulunya rimbun kita telah kita tebangi untuk kepentingan kita tanpa mengedakan penanaman kembali, sehingga banjir melanda.

Persawahan yang menghijau dan subur telah kita sulap menjadi areal industri penghasil asap dan polusi. Kemana polutan itu kita buang? Apa yang terjadi dengan kekayaan alam yang ada di perut bumi kita? Kita hanya bisa mengeruknya untuk kepentingan segelintir orang, akibatnya Tuhan meluapkan lumpur panas dari bumi yang sampai sekarang masih terus menyembur, entah sampai kapan berhenti.
Iklim kita juga sudah rusak. Petani tidak dapat lagi memperkirakan masa tanam yang baik bagi tanaman tertentu, apalagi padi, akibatnya, kita yang sebelumnya menjadi negara pengekspor beras, malah menjadi negara yang mengimpor beras, petani semakin terpuruk.

Para wakil rakyat hanya berebut kekuasaan dengan uang dan tidak lagi menjadi penyuara rakyat. Kemiskinan merajalela, bahkan seakan menjadi komoditi daerah untuk mendapat bantuan, tapi pada kenyataannya bantuan pada rakyat yang miskin tidak pernah sampai, kalaupun sampai mungkin hanya 10%-nya saja.

Dimana hati dan perasaan kita, wahai wakil rakyat!!! Bertobatlah, kembalilah ke jalan yang benar, bekerjalah dengan jujur, dengan integritas tinggi, lakukan apa yang telah kalian katakan dan janjikan!!!
Bagi rakyat dan bangsa Indonesia, mari kita bersatu dan bangkit dari keterpurukan, tinggalkan hal-hal yang tak berguna, saling mengingatkan bila ada yang menyimpang, agar musibah tidak terus menerus menimpa kita.

Memang secara ilmiah, Indonesia terletak di lempeng yang labil. Tapi tidak pernah ada yang tahu perkiraan adanya gempa dan bencana. Maka tidak ada salahnya kita meminta ampun dan pertolongan pada Tuhan yang memang telah mengatur semua kejadian.

Minggu, 19 April 2009

Hidup adalah pilihan

Hidup adalah pilihan. Setiap detik, setiap menit, hidup kita akan selalu dipenuhi oleh pilihan-pilihan yang harus kita putuskan. Orang yang tidak memilihpun tetap mempunyai pilihan bahwa dia tidak bertindak apa-apa terhadap hidupnya.

Bangun tidur, kita akan dihadapkan pada pilihan : mandi dulu atau tidur lagi, bermalas-malasan atau bekerja. Semua kegiatan dan aktifitas kita di dunia ini merupakan pilihan kita. Tapi persoalannya, mampukah pilihan kita itu merubah hidup kita menjadi lebih baik? Sudah benarkah pilihan kita itu? Apa yang menjadi tolok ukur kebenaran pilihan kita?

Setiap kita yang hidup dan diberi hidup pasti punya keinginan dan harapan. Mungkinkah keinginan dan harapan yang tercapai menjadi tolok ukur kebenaran pilihan kita? Belum tentu. Kebenaran yang hakiki hanya dimiliki Sang Khalik yang menciptakan kita.

Setiap petualang dan pendaki gunung pasti mempunyai tujuan untuk mencapai puncak tertinggi. Untuk mencapainya, mereka pasti akan memerlukan peta dan kompas. Di teangah perjalanan, pastilah mereka akan dihadapkan pada pilihan jalan yang bercabang. Bila tidak dibekali dengan peta dan kompas, pastilah mereka akan tersesat. Tetapi tentu saja pendaki yang sudah pernah menyusuri jalan menuju puncak sudah hafal dengan jalan kesana, sehingga tidak perlu lagi membawa peta dan kompas. Tetapi apakah mereka yakin jalan ke puncak tidak akan berubah? sedangkan gunung itu sudah pernah meletus misalnya? atau jalan yang dulu mereka lalui tertutup oleh belukar dan pepohonan?

Pedoman dalam hidup tentu mutlak diperlukan, agar kita tidak salah menentukan pilihan dalam hidup kita. Petunjuk dari orang yang lebih mengerti pun tetap diperlukan. Jadi, janganlah menjadi orang yang sombong yang seakan tahu segalanya dan tidak memerlukan bantuan orang lain. Tetapi bila orang lain memerlukan kita, janganlah berpikir dua kali untuk membantu, karena bila kita membantu orang lainpun, kita akan memetik pelajaran dan ilmu yang dapat menjadikan pilihan dalam hidup kita akan tepat untuk kita.
Tetapi ingatlah, pilihan seseorang tidak akan selalu sesuai dan cocok dengan orang lain. Setiap individu adalah pribadi yang unik dan selalu akan mempunyai pilihan hidup yang berbeda dari kita.

Jadi selamat memilih dalam hidup dan yakinlah dengan pilihan kita.